HUMANIORA

Ketidakpastian Menunggu Bantuan, Warga Menanti Dikirimi Kain Kafan

Dosen 305 hari yang lalu Dilihat 585 kali

Lebih dari sepekan setelah bencana menerjang, para korban banjir bandang dan tanah longsor di Pulau Sumatra masih bergulat dengan ketidakpastian. Sementara nama-nama terus dicari di antara puing, harapan untuk segera ditolong perlahan berganti kepasrahan.

Bencana yang datang pada 26 November 2025 menyapu segalanya dengan kecepatan yang mengerikan, jauh lebih cepat dari bantuan yang diharapkan. Hujan berhari-hari berubah menjadi arus pekat lumpur dan kayu gelondongan, seolah membawa amarah dari hutan-hutan yang telah digunduli. Di pulau yang dulu megah, ribuan keluarga ditinggalkan dengan luka yang dalam.

Skala Bencana Terus Membesar

Hingga Sabtu (6/12/2025) angka korban resmi dari BNPB terus merangkak naik. Sebanyak 914 jiwa meninggal dan 389 orang masih hilang. Angka itu dipastikan akan bertambah, karena masih banyak wilayah yang sama sekali belum bisa dijangkau tim penyelamat.

Daerah-daerah seperti Tapanuli Tengah, Padang Sidempuan, hingga Aceh Tamiang terputus dari dunia luar. Jalan hancur, listrik padam, komunikasi terputus. Banyak warga yang bahkan tidak tahu nasib kampung tetangganya.

Di tengah kegelapan informasi itu, suara-suara warga terdengar penuh kepedihan. Mereka terpaksa bertahan sendirian, lama sebelum bantuan negara akhirnya tiba.

Aramiko, warga Kampung Pantan Nangka, Aceh Tengah, hampir kehilangan harapan setelah menunggu lebih dari seminggu. Isolasi wilayahnya membuat bantuan logistik tak kunjung sampai.

“Sepertinya sekarang kami tidak butuh bantuan makanan lagi. Kirim kami kain kafan saja,” ucap Aramiko, menyiratkan keputusasaan yang dalam.

Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem, menggambarkan bencana ini sebagai “tsunami kedua” yang melenyapkan permukiman warga. “Ada beberapa kampung hilang entah ke mana, yaitu Sawang, Jambo Aye di Aceh Utara, Peusangan di Bireuen. Malam itu empat kampung juga enggak tau entah ke mana. Jadi, Aceh sekarang seperti tsunami kedua,” tuturnya.

Kata-kata itu menjadi potret jujur sebuah bencana, bukan hanya tentang air yang menghanyutkan tetapi juga tentang jeda panjang saat negara terlambat datang.

Masyarakat Bergerak

Lambannya distribusi bantuan memicu gerakan spontan dari masyarakat sipil. Berbagai kelompok relawan dan organisasi sosial bergerak cepat, menembus lokasi-lokasi terpencil yang belum terjamah.

Salah satunya adalah aktivis Ferry Irwandi, yang berhasil menggalang dana lebih dari Rp10 miliar. Bersama timnya, ia mendatangi wilayah terisolir seperti Kecamatan Sekerak di Aceh Tamiang, membagikan beras, minyak, mi instan, dan kebutuhan pokok lainnya kepada ribuan keluarga yang tengah berjuang bertahan hidup.

“Akhirnya bisa kita sampai di sini buat nganterin. Mungkin belum sempurna, mungkin belum cukup. Tapi kita coba ya bapak ibu ya, semoga cukup ya,” kata Ferry kepada warga, dalam kutipan yang diunggah oleh @kitabisacom.

Meski pemerintah telah mengalokasikan anggaran dan mengirimkan bantuan, efektivitasnya masih kerap terhambat. Banyak warga mengeluh bantuan tak kunjung sampai, terhalang akses yang hancur dan koordinasi yang lamban.

Di kampung-kampung yang kini tertimbun lumpur, warga tak hanya kehilangan rumah. Mereka juga kehilangan keyakinan akan kesiapsiagaan negara yang seharusnya melindungi mereka. Yang mereka tunggu bukan sekadar karung beras, tetapi kepastian bahwa nyawa mereka berarti.

Di balik duka yang menyelimuti Sumatra, sebuah pertanyaan besar menggantung. Jika arus air mampu datang dalam hitungan menit, mengapa kehadiran negara harus menunggu berhari-hari?

Berita Lainnya